PBHI Gelar Media Briefing, Melawan Stigma dan Diskriminasi Terhadap ODHIV

JAKARTA – Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan telah mengubah HIV dari penyakit yang mematikan menjadi kondisi kesehatan kronis yang dapat dikelola. Dengan terapi antiretroviral (ARV) yang teratur, Orang Dengan HIV (ODHIV) dapat Hidup sehat, produktif, Dan memiliki Harappan Hidup yang panjang. Namun demikian, kemajuan media tersebut belum diikuti Dengan perubahan sikap sosial dan kebijakan publik.

Menurut Koordinator Program CSS/HR PBHI (Pusat Bantuan Hukum & HAM Indonesia), Totok Yuliyanto, saat ini tantangan terbesar yang dihadapi ODHIV dan populasi kunci bukan lagi HIV itu sendiri, melainkan stigma, diskriminasi, kriminalisasi, dan berbagai hambatan struktural yang menghalangi akses terhadap layanan kesehatan dan perlindungan hak asasi manusia.

“Data Stigma Index 2.0 Indonesia 2023 menunjukkan bahwa 19,5 persen ODHIV mengalami diskriminasi saat mengakses layanan HIV dan 15,9 persen mengalami diskriminasi dalam layanan kesehatan umum. Bentuk diskriminasi tersebut mencakup perlakuan yang merendahkan, penolakan layanan, hingga pelanggaran kerahasiaan status HIV. Kondisi ini menyebabkan banyak orang takut melakukan tes HIV, enggan mengakses layanan kesehatan, atau menghentikan pengobatan karena khawatir menghadapi stigma dan perlakuan tidak adil,” tambah Totok Yuliyanto, saat menjadi narasumber di Hutan Kota Palem, Cipedak Jakarta Selatan pada Jumat (19/6).

Sementara Nanda Rizki Putra, Sekretaris Badan Pengurus Harian Nasional PBHI menyatakan bahwa sebagai organisasi yang berkomitmen pada pemajuan hak asasi manusia, PBHI terus mendorong perlindungan dan pemenuhan hak-hak kelompok rentan, termasuk kelompok kunci yang terdampak HIV.

“PBHI secara khusus memberikan bantuan hukum dan advokasi terhadap kebijakan-kebijakan strategis yang berdampak positif terhadap upaya penanggulangan HIV di Indonesia,” ujar Nanda Rizki dipenghujung acara yang didukung oleh KULDESAK.

Panduan Hidup Bermasyarakat bagi Penderita HIV

Tidak hanya harus selalu menjaga kondisi kesehatannya, ODHA juga sering menghadapi tantangan lain berupa stigma negatif dan diskriminasi yang bisa berdampak pada kesehatan mentalnya.

Di Indonesia dan beberapa negara lain, tidak sedikit ODHA yang kehilangan pekerjaan, dikucilkan oleh keluarga dan teman-temannya, atau bahkan menjadi korban kekerasan. Data dari UNAIDS menyebutkan bahwa sekitar 63% masyarakat Indonesia masih enggan berinteraksi langsung dengan ODHA.

Ada beberapa alasan mengapa stigma dan diskriminasi terhadap ODHA masih begitu tinggi di Indonesia, yaitu:

  • Kurangnya informasi dan edukasi yang memadai mengenai HIV, sehingga penyakit ini ditakuti banyak orang.
  • Adanya anggapan bahwa hanya kelompok tertentu saja yang bisa terkena HIV.
  • Anggapan yang salah tentang penyebaran HIV, seperti mempercayai HIV bisa menular melalui kontak fisik atau berbagi peralatan makan.
  • HIV dan AIDS sering dikaitkan dengan perilaku negatif tertentu, seperti penggunaan obat terlarang atau narkoba, terutama narkoba dalam bentuk suntik dan seks bebas

Berbagai stigma sosial mengenai HIV ini menyebabkan munculnya perlakuan diskriminatif terhadap ODHA, seperti ditolak saat ingin berobat, dikeluarkan dari tempat kerja, dan tidak diperkenankan menggunakan fasilitas umum.

Oleh karena itu, pemberian edukasi mengenai HIV dan ODHA kepada masyarakat penting dilakukan guna menghilangkan stigma dan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang penyakit ini.

Mengungkap Status HIV Kepada Orang Lain

Stigma dan diskriminasi sering membuat ODHA enggan mengungkapkan kondisinya kepada orang lain. Padahal, ada banyak manfaat yang bisa diperoleh ODHA bila ia membuka diri kepada orang lain tentang kondisinya, seperti:

  • Tidak merasa sendirian dalam menjalani hidup dengan HIV
  • Banyak mendapat dukungan dan kasih sayang dari orang-orang terdekat yang bisa membuat ODHA lebih percaya diri
  • Mudah memperoleh akses untuk mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan
  • Turut berkontribusi dalam mencegah penularan virus HIV ke orang lain, terutama pasangan

Karena masih banyaknya stigma negatif dan diskriminasi dalam masyarakat terhadap penderita HIV dan AIDS, ODHA perlu bersikap selektif dalam memberi tahu kondisi atau status HIV-nya kepada orang lain. Hal ini karena tidak semua orang bisa menerima informasi tersebut dengan pikiran terbuka.

Jadi, sebelum menginformasikan status HIV kepada orang lain, ODHA disarankan untuk mempertimbangkan beberapa hal berikut ini:

  • Mulailah dengan orang terdekat dan yang paling dipercaya terlebih dahulu, misalnya pasangan atau keluarga.
  • Ketahui alasan kuat kenapa perlu memberi tahu situasi ini kepada orang tersebut.
  • Bersiaplah untuk menghadapi reaksi terburuk yang mungkin akan diterima.
  • Lengkapi diri dengan informasi mendalam tentang HIV, karena orang yang diberi tahu mungkin akan menanyakan beberapa hal mengenai penyakit ini.
  • Jika memutuskan untuk berbicara kepada atasan, sertakan surat keterangan dokter dan informasikan apakah kondisi yang diderita akan memengaruhi pekerjaan atau tidak.

Menyadari Konsekuensi dan Mengurangi Risiko Penularan

Selain menjaga diri, penderita HIV dan AIDS juga sebaiknya mengetahui dengan baik cara untuk mengurangi risiko penularan HIV kepada orang lain.

HIV menyebar melalui cairan tubuh, seperti air mani, darah, cairan vagina, dan ASI. Penularan HIV bisa terjadi melalui hubungan seksual tanpa pengaman atau kondom.

Oleh karena itu, penggunaan kondom dapat menekan risiko penularan HIV pada pasangan. Selain melalui hubungan seks tanpa pengaman, HIV juga bisa menular melalui penggunaan jarum suntik yang tidak steril dan transfusi darah.

Infeksi HIV juga bisa menular dari seorang wanita yang dinyatakan positif HIV kepada bayinya, baik saat hamil maupun menyusui. Namun, dengan langkah pengobatan yang tepat, seorang wanita ODHA bisa hamil dan melahirkan tanpa menularkan HIV ke anaknya.

Dengan mengetahui penyebab penularan HIV dengan baik, seorang ODHA telah turut berkontribusi dalam mencegah penyebaran HIV.

Mencari Dukungan bagi Penderita HIV dan AIDS

Bila Anda seorang ODHA, ketahuilah bahwa Anda tidak sendiri. Anda bisa berbagi informasi dengan sesama ODHA untuk mendapatkan dukungan moral agar tidak merasa kesepian dalam menjalani hidup sebagai penderita HIV.

Selain itu, Anda pun juga bisa bergabung dengan berbagai komunitas, misalnya Komunitas AIDS Indonesia dan menemukan lembaga yang memberikan tes serta pelayanan bagi ODHA di kota tempat Anda tinggal.

HIV dan AIDS memang belum bisa disembuhkan. Namun, pengobatan HIV dengan obat antiretroviral (ARV) dapat menekan jumlah virus HIV pada ODHA. Dengan terapi yang tepat, para ODHA bisa hidup normal dan produktif serta berisiko rendah menularkan HIV kepada pasangannya.

Oleh karena itu, para ODHA tidak perlu lagi merasa putus asa meski harus menjalani hidup dengan HIV. Jika memiliki pertanyaan seputar pengobatan HIV atau tips untuk hidup bermasyarakat dengan penderita infeksi HIV, Anda bisa berkonsultasi dengan dokter.(Nicky)