Jakarta – Pada edisi ke-4 Aksi #saveTIM Unfinished Struggle 24 Januari 2024, Forum Seniman Peduli Taman Ismail Marzuki (TIM) menyampaikan surat terbuka kepada Gubernur DKI Jakarta Pramono Agung sebagai bentuk kegelisahan sekaligus peringatan atas arah pengelolaan Taman Ismail Marzuki yang dinilai semakin menjauh dari cita-cita awalnya sebagai pusat kebudayaan.

Dalam surat terbuka yang ditandatangani dan disampaikan pada Jumat (24/1), forum yang beranggotakan para seniman lintas disiplin ini menegaskan penolakan terhadap praktik komersialisasi TIM yang telah berlangsung dalam enam tahun terakhir. “Kami adalah kumpulan seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli Taman Ismail Marzuki, sebuah majelis nonstruktural yang beranjak beralaskan moral.
Dalam kurun waktu 6 tahun belakangan hingga hari ini, Forum Seniman Peduli TIM masih konsisten dalam perjuangan menolak komersialisasi di Taman Ismail Marzuki. Forum menilai gejolak yang terjadi di Taman Ismail Marzuki sangat berkaitan dengan isu pengelolaan TIM yang tumpang tindih dan komersialisasi ruang berikut infrastrukturnya.

“Maka kami berharap pada Gubernur Jakarta, dapat menyajikan kebijakan yang berpihak pada seniman sebagai pemilik sah rumah ini,” ujar Willy Fwi seniman penggagas Forum Seniman Peduli TIM.
Forum Seniman Peduli TIM menagih janji gubernur DKI Jakarta sebelumnya yang dalam pidatonya menyebutkan pengelolaan TIM idealnya dilakukan melalui skema single management berbentuk Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).
“Kami benar-benar berharap keselarasan antara ucapan yang pernah dilontarkan pada salah satu pidato Bapak tentang pengelolaan Taman Ismail Marzuki yang single management, yakni BLUD, sesuai dengan sikap yang akan Bapak ambil sebagai sebuah keputusan berkekuatan hukum kelak,” jelasnya.

Namun, harapan tersebut dinilai mulai pupus setelah muncul wacana pemindahan pengelolaan TIM dari PT Jakarta Propertindo (Jakpro) ke PT Jakarta Experience Board (JXB), yang sama-sama merupakan BUMD.
“Apa bedanya? Sebuah wacana yang jelas-jelas bertentangan dengan niat baik Bapak sebelumnya, dan terlanjur sudah disambut dengan suka cita oleh para seniman. Maka akibatnya, keberpihakan Bapak kepada Seniman hari ini kembali dipertanyakan. Akankah selaras ucapan dan perbuatan,” tutur Willy menambahkan.
Forum Seniman Peduli TIM mengatakan komersialisasi TIM berpotensi menjadikan seluruh ruang, baik di atas maupun di bawah tanah, sebagai barang dagangan yang sah secara hukum melalui Pergub DKI Jakarta Nomor 63 Tahun 2019.
“Hanya sekedar mengingatkan Pak Gubernur, karena sesungguhnya Bapak juga paham bahwa komersialisasi TIM akan menjadikan segala sesuatu yang ada di bawah dan di atas tanah TIM sebagai barang dagangan,” ujarnya.
Forum Seniman Peduli TIM menilai dampak kebijakan tersebut mulai tampak melalui penggunaan ruang-ruang seni untuk kegiatan yang dinilai tidak pantas secara kultural.
“Hari ini sudah mulai tampak walau masih malu-malu, namun kelak akan jadi perkasa, terstruktur, sistematis, dan masif. Ya, ini semua legal karena dikukuhkan oleh Pergub DKI Jakarta No.63 tahun 2019 itu,” imbuhnya.
Ia mencontohkan ruang Teater yang mulai digunakan Arena Wahyu Sihombing untuk acara peluncuran produk ponsel HP China, perayaan ulang tahun anak pejabat publik, hingga kegiatan sosialisasi partai politik.
“Semua dilakukan demi cuan, tanpa mempertimbangkan pantas atau tidak pantas,” demikian salah satu kutipan dalam surat terbuka tersebut. Meski demikian, forum menyatakan masih menaruh harapan pada hati nurani Gubernur Jakarta. Mereka percaya bahwa Jakarta sebagai kota besar dan beradab semestinya memuliakan seni dan budaya.
“Pak Gubernur, Kami percaya Bapak masih memiliki hati nurani. Jakarta yang hebat tentu ingin dilihat sebagai sebuah negeri yang memuliakan adat budayanya,” ungkap Forum Peduli Seniman TIM.
Forum Seniman Peduli TIM mengajak Gubernur Jakarta untuk bersama-sama memulihkan marwah Taman Ismail Marzuki sebagai laboratorium, etalase, dan barometer seni budaya nasional, sebagaimana cita-cita awal pendiriannya. “Pak Gubernur, kami mengajak Bapak, mari kita pulihkan marwah Taman Ismail Marzuki ini sebagai laboratorium, etalase, dan barometer seni budaya bangsa, sesuai cita-cita awalnya. Terimakasih Pak Gubernur, sudah bersedia mendengarkan kami,” tulisnya.
Forum menegaskan bahwa TIM telah melahirkan banyak seniman dan budayawan besar yang pemikiran serta karyanya menjadi bagian tak terpisahkan dari proses pembangunan bangsa yang berkeadaban.
“Hingga Bapak, dan anak cucu kita akan tetap dapat menghidup kesenian di sini bahwa di Taman Ismail Marzuki pernah melahirkan seniman dan budayawan dahsyat di negeri ini, yang pikiran-pikiran mereka menjadi unsur inheren dalam proses pembangunan yang berkeadaban bagi bangsa ini,” tandasnya.
Aksi #saveTIM Unfinished Struggle edisi ke 4 ini banyak seniman yang tampil diantaranya Ical Vrigar, Willy Fwi, Mita Katoyo, Tora Kundera, Arie Toskir, Jaxon, Hartini, Ibob Su Su dan Bataliyon Kerja Rupa, Iwoe Banyu Gesang, Abimanyu, Octa, dan banyak lagi lainnya. Para seniman menbacakan puisi bergantian dengan mengunakan topeng. Ibob Susu melukis bersama Bataliyon Kerja Rupa.(Her)






