BOGOR, Agustus 2025 – Festival Tunggul Kawung II, sebuah acara tahunan di Kota Bogor yang berfokus pada kesenian dan kebudayaan siap diadakan pada bulan Oktober 2025.
Dari sejarahnya, Festival Tunggul Kawung sendiri memiliki beberapa tujuan utama, pertama, melestarikan dan mempromosikan seni budaya melalui festival, yang itu menjadi wadah bagi seniman dan budayawan untuk menampilkan- memperkenalkan karya seni mereka kepada masyarakat luas. Kedua, mengembangkan pariwisata berbasis budaya: festival ini diharapkan dapat menjadi daya tarik wisata di Kota Bogor, dengan menggabungkan unsur hiburan, edukasi, dan pemberdayaan potensi seni budaya. Ketiga, meningkatkan PAD (Pendapatan Asli Daerah): melalui pariwisata berbasis budaya, festival ini diharapkan dapat berkontribusi pada peningkatan PAD Kota Bogor. Festival Tunggul Kawung biasanya menampilkan berbagai pertunjukan seni musik tabuh, kompetisi, dan kegiatan seni lainnya. Acara ini juga didukung oleh Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Bogor (DK3B) dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor.
Untuk tahun ini nama acaranya adalah “Bogor Festival Pesenian Jalanan Tunggul Kawung II”, dan mengambil tema “Harmoni dalam Keberagaman, Satu Nusa, Bangsa, dan Bahasa”. Acara diselenggarakan dalam bentuk festival musik dan mengangkat isu alam-lingkungan, sosial, dan nasionalisme.
Kepanitiaan acara ini sudah dibentuk, dengan Panitia Pengarah antara lain; Anto Baret, Martha Dinata, Dedy Ewan, Frans Rumbino, Dody Dermawan, dan H. Dody ESPE.

Eha Zhulaeha, selaku Sekretaris di Kepanitiaan Tunggul Kawung II menjelaskan, tujuan utama acara Tunggul Kawung II ini mengajak para seniman jalanan—baik musisi, kelompok teater, hingga perupa—untuk terlibat dalam sebuah Festival Seni yang inklusif, sebagai wadah pengembangan potensi mereka. Selain itu, acara ini diharapkan menjadi alat pemersatu nasional, melawan disintegrasi bangsa dengan kekuatan budaya, kreativitas, dan solidaritas lintas daerah.
“Perencanaan acara ini dimulai dari penguatan jaringan seniman lokal, penyusunan konsep kurasi yang selektif, hingga pendekatan ke berbagai komunitas. Kami menyusun tim yang solid dan terbuka, dengan keterlibatan aktif dari seniman senior, budayawan, dan penggiat sosial. Persiapan juga mencakup kurasi peserta, pembentukan juri dari lintas profesi, serta menyusun strategi promosi berbasis komunitas, “ujar perempuan yang akrab dipanggil Lala ini.
Saat ditanya apa yang membuat acara ini unik dan berbeda dari acara lainnya? Lala menjelaskan, keunikannya terletak pada fokus terhadap seniman jalanan yang seringkali terpinggirkan, namun justru menjadi napas keseharian masyarakat. Selain itu, acara ini membawa semangat kebangsaan, lingkungan hidup, dan budaya gotong-royong, yang dikemas secara merdeka dan lintas disiplin seni.

Untuk target audiens acara ini adalah masyarakat luas, terutama generasi muda, komunitas seni, akademisi, dan aktivis sosial. Penjangkauan dilakukan melalui media sosial, jaringan komunitas, kampus, ruang-ruang budaya, dan kerjasama antar komunitas seniman di berbagai daerah.
Lala juga mengaku tantangan terbesar yang dihadapi dalam menyelenggarakan acara ini adalah mengatasi keterbatasan asosiasi yang masih bersifat lokal, sementara pastinya butuh dukungan, aliansi lintas daerah untuk menjangkau level nasional. Di sisi lain, tantangan logistik dan pembiayaan juga menjadi pekerjaan rumah yang besar.
Terkait harapan dari acara ini dalam jangka panjang, Lala menjawab: “Saya dan kawan-kawan berharap Tunggul Kawung II bisa menjadi festival keliling nusantara, sebagai panggung alternatif yang memberi ruang ekspresi dan kolaborasi lintas daerah. Jangka panjangnya, juga ingin mendorong gerakan budaya berbasis rakyat yang mampu menyuarakan nilai-nilai persatuan dan kesadaran ekologis”.
“Melalui karya seni, pastinya ingin menggugah kembali kesadaran masyarakat terhadap kerusakan lingkungan, distorsi sosial, dan hilangnya nilai-nilai leluhur, seperti gotong royong dan solidaritas antarwarga. Seni menjadi alat untuk mengingatkan sekaligus menyembuhkan luka-luka sosial yang ditinggalkan oleh sistem dan elit politik yang gagal, “tambah Lala.
Terakhir Lala memberi pesan terkait acara ini, “Bangsa ini besar bukan karena elit politik, tetapi karena rakyat dan budayanya, jadi mari kita bersatu melalui seni, jaga lingkungan kita, rawat nilai-nilai leluhur, dan bersama-sama menolak disintegrasi yang dipicu oleh elit yang menipu. Seni bukan sekadar hiburan, ia adalah media perlawanan, penyambung sejarah, dan benih masa depan, “pungkasnya. (tp)