Oleh : Kuntjoro Pinarde
Jakarta,arah merdeka.com-Indonesia hari ini memiliki banyak sumber daya manusia unggul di bidang semikonduktor. Profesor dengan rekam jejak akademik yang kuat, peneliti dengan penguasaan fisika perangkat yang mendalam, birokrat dengan peta jalan yang tersusun rapi, serta teknokrat yang cermat menghitung kebutuhan industri. Semua itu penting dan patut diapresiasi. Namun, jika kita belajar dari sejarah, industri semikonduktor global tidak pernah dimenangkan oleh mereka yang sekadar paling siap menjalankan rencana. Industri ini dimenangkan oleh mereka yang lebih dahulu membayangkan masa depan, lalu dengan disiplin dan ketekunan mengerjakan sains serta teknologinya.
Selama ini, cara kita belajar semikonduktor kerap dimulai dari ujung yang keliru. Kita memulainya dari daftar kebutuhan: jabatan apa yang harus diisi, teknologi apa yang tertinggal, dan fasilitas apa yang belum dimiliki. Pendekatan ini tampak rasional, tetapi menyimpan risiko besar. Ia melahirkan sumber daya manusia yang terampil secara teknis, namun miskin orientasi. Padahal, para pelaku utama industri semikonduktor dunia tidak lahir dari kepatuhan pada peta jalan, melainkan dari keberanian membaca dan menantang arah zaman.
Irwin Jacobs, pendiri Qualcomm, tidak menunggu dunia meminta teknologi komunikasi nirkabel yang efisien. Ia terlebih dahulu meyakini bahwa dunia akan bergerak ke arah tersebut, lalu memaksakan fisika, matematika, dan rekayasa sistem untuk mewujudkannya. Jerome Lemelson mematenkan gagasan-gagasan yang pada masanya tampak mustahil, bukan karena teknologinya telah siap, melainkan karena imajinasinya telah melampaui zamannya. Demikian pula para pendiri ARM, yang sejak awal membaca bahwa masa depan komputasi bukan ditentukan oleh daya komputasi tertinggi, melainkan oleh efisiensi energi dan fleksibilitas arsitektur. Mereka bekerja dalam senyap dan bersabar hingga dunia menyusul.
Pola ini konsisten: memprediksi masa depan, kemudian mengerjakan tugasnya. Imajinasi selalu mendahului eksekusi. Fisika bukanlah titik awal, melainkan instrumen. Transistor, litografi, dan arsitektur prosesor adalah jawaban teknis atas pertanyaan yang telah dirumuskan jauh sebelumnya: dunia seperti apa yang akan kita hadapi dan peran apa yang ingin kita ambil di dalamnya.
Di Indonesia, tahap pertama ini masih sering terabaikan. Kita tergesa-gesa ingin “ikut bermain” dengan meniru struktur industri negara lain, seolah-olah dengan modal besar dan talenta yang cukup, keberhasilan akan datang dengan sendirinya. Tanpa visi yang jelas tentang masa depan yang ingin dimasuki, pendekatan ini berisiko menjadikan kita sekadar pelaksana yang rapi dari gagasan pihak lain.
Belajar semikonduktor seharusnya dimulai dari latihan intelektual yang lebih berani: membayangkan Indonesia dua puluh tahun ke depan. Bagaimana energi diproduksi dan digunakan? Bagaimana manusia berkomunikasi, bergerak, dan bekerja? Di titik mana Indonesia harus menjadi pihak yang tidak tergantikan? Setelah gambaran itu jelas, barulah kita turun ke laboratorium, ruang bersih, dan meja desain, untuk mengerjakan fisika dengan ketekunan tanpa kompromi.
Indonesia tidak kekurangan orang cerdas. Yang masih langka adalah mereka yang berani mengatakan, “Saya melihat masa depan ke arah sana, dan saya siap mendedikasikan hidup saya untuk mencapainya.” Jika sungguh ingin masuk ke gelanggang semikonduktor global, Indonesia tidak hanya membutuhkan insinyur yang patuh, tetapi juga pemikir visioner yang berani, sekaligus pekerja paling disiplin dalam mewujudkan visinya.
Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN)
Dewan Pakar Manifes Juang Indonesia ( Maju Indonesia)






