JAKARTA – Awal Januari 2026 gerakan #saveTIM kembali menggema. Willy Fwi dan Ical Vrigar mengajak kawan-kawan seniman untuk aksi #saveTIM kembali pada 3 Januari 2026, dan dilanjutkan dengan aksi kedua ditahun awal 2026 ini pada 10 Januari, dengan tagline UNFINISHED STRUGGLE.
Pada aksi kedua pada 10 Januari 2026 para seniman yang mengisi acara pentas puisi maupun musik diantaranya Jose Rizal Manua, Octa, Dyah Kencono PD, Jaxon, Clara Cinta Bella, Baharian, Sena Prakoso, The Bandito, Wahyu Toveng, Dee Diana, Mita Katoyo, Tora Kundera, Lingkaran Musikal, Kef, Fanny Jonathan Poyk, Farinnisa, Indar, Sharon Ameer, Iwoe Banyu, Hary Tany, Arie Toskir, dan banyak lagi yang hadir dan ikut pentas dalam aksi #saveTIM.
Perjuangan Belum Selesai! Mari bergerak dan bersuara untuk selamatkan Taman Ismail Marzuki !
UNFINISHED STRUGGLE
Lepas dari mulut Jakpro, masuk ke mulut JXB
1. KOMERSIALISASI = KEHILANGAN IDENTITAS. Taman Ismail Marzuki akan kehilangan identitas, lenyap autentitas dan kematian karakter aslinya sebagai barometer, etalase dan laboratorium seni budaya.
2. KOMERSIALISASI = KONTROL KETAT. Aktifitas seniman, kebebasan berekspresi dan hak berhimpun akan dibatasi dengan ketat.
3. KOMERSIALISASI = EKSKLUSIFITAS. Setiap jengkal ruang di TIM akan menjadi eksklusif, dan hanya dapat diakses oleh mereka yang mampu membayar, sehingga mengurangi aksesibilitas bagi masyarakat luas.
4. KOMERSIALISASI = PEMUSNAHAN FUNGSI SOSIAL. Sebagai ruang publik, TIM akan kehilangan fungsi sosialnya, dan menjadi lebih berorientasi pada keuntungan ekonomi daripada kepentingan masyarakat.
#saveTIM
#enyahJAKPRO
#tolakJXB







