Tokoh Pemuda Depok Lama Reggy Loen Bersuara: Kriminalisasi Aktivis Adalah Upaya Pembungkaman

Depok – Aksi Gerakan Depok Bersatu (Gedor) di Koat Caffe, Jalan Siliwangi, kembali menjadi sorotan publik. Papan segel Pemkot Depok yang dicabut, dibungkus kain, dan tergeletak di belakang Caffe memicu reaksi keras warga, terutama dari kalangan keturunan 12 Marga di Depok.

Salah satu yang angkat bicara adalah Reggy George Loen, keturunan 12 Marga Depok yang dikenal kritis terhadap segala bentuk ketidakadilan. Dalam wawancara, Reggy mengaku sangat marah dan kecewa melihat simbol kota diperlakukan semena-mena.

“Sebagai keturunan 12 Marga, saya merasa ini penghinaan terhadap kota kita sendiri. Logo Pemkot Depok seharusnya simbol wibawa dan kehormatan, bukan mainan yang dibungkus kain lalu dibuang di belakang Caffe. Ini bukan masalah kecil. Ini memperlihatkan lemahnya pengawasan dan rendahnya rasa tanggung jawab dari pihak-pihak tertentu,” tegas Reggy dengan nada berapi-api. Jumat 2 Januari 2026.

Ia menekankan, aksi para aktivis Gedor bukan sekadar protes biasa. Menurut Reggy, mereka adalah pengawas, alarm kejujuran, dan pengingat bahwa tata kelola harus dijalankan sesuai aturan.

“Aktivis bukan kriminal! Mereka adalah cermin kebenaran. Mengkriminalisasi mereka hanya menunjukkan ketakutan pihak-pihak tertentu terhadap kebenaran,” ujarnya.

Reggy tidak segan mengecam keras upaya pihak-pihak yang berusaha menakut-nakuti aktivis.

“Ini tindakan pengecut dan memalukan. Siapa pun yang mencoba menjerat aktivis dengan kriminalisasi harus tahu, rakyat mengawasi. Suara kebenaran tidak bisa dibungkam. Aktivis hadir untuk menegakkan hak publik, bukan untuk dilawan,” tegasnya.

Ia menyoroti simbol kota sebagai bagian dari wibawa dan transparansi. “

Kalau simbol kota saja bisa dipermainkan, bagaimana warga bisa percaya pada sistem yang diterapkan? Kalau papan segel bisa dibungkus, disembunyikan, dan diperlakukan seenaknya, bagaimana kita bisa berharap ada kejujuran dan akuntabilitas di hal-hal lain? Ini panggilan keras bagi semua pihak yang berupaya menakuti dan menekan warga yang menegakkan aturan,” jelas Reggy.

Reggy juga menegaskan, sebagai keturunan 12 Marga, pihaknya akan terus mendukung aktivis yang menegakkan kebenaran.

“Kami berdiri di belakang mereka. Jangan coba-coba menakut-nakuti atau membungkam mereka. Aktivis ada untuk membuat pihak terkait bertanggung jawab. Jika diabaikan, rakyat akan tahu siapa yang benar-benar membela kota ini, dan siapa yang hanya ingin berkuasa tanpa tanggung jawab,” pungkasnya.

Aksi Gedor di Koat Caffe kini menjadi sorotan publik. Papan segel yang dibungkus kain bukan sekadar masalah administratif, tetapi lambang hilangnya wibawa, transparansi, dan akuntabilitas. Reggy George Loen menegaskan bahwa kebenaran tidak bisa dibungkam, dan kritik publik bukan ancaman, melainkan cermin yang harus diperhatikan.

Kota Depok tengah diperhatikan warga, dan pesan dari keturunan 12 Marga ini jelas, siapa pun yang mencoba menakut-nakuti atau mengkriminalisasi aktivis, rakyat akan tahu. Kebenaran selalu menemukan jalannya, dan aktivis akan terus menjadi pengingat yang tidak bisa diabaikan.(HR)